DAKWAH LEWAT JURNALISTIK
BAB I
MENGAPA DAKWAH LEWAT JURNALISTIK
A. Dakwah Lewat Jurnalistik, Sejarah, dan Perannya Dahulu
Sesungguhnya sejak masa kelahiran, perkembangan dan kebangkitan Islam, dakwah melalui tulisan sudah dipandang Rasulullah SAW sebagai salah satu bentuk langkah dakwah yang efektif. Dakwah lewat jurnalistik sudah dimulai dan dikembangkan oleh Rasulullah SAW dengan pengiriman surat dakwah kepada kaisar, raja-raja, ataupun pemuka masyarakat yang ada. Bila setiap pembuat berita dapat disebut sebagai wartawan atau jurnalis, maka nama sahabat Nabi mulai Abu Bakar, Umar Bin Khattab, Ustman bin Affan, Ali bin Abi Thallib, Ibnu Umar, Aisyah ra ( Istri Nabi) dan banyak lagi tokoh muslim yang mempunyai aktivitas serupa, tentulah layak mendapat sebutansebagai wartawan.
Dari para sahabat, catatan aktivitas kenabian Rasulullah SAW diberikan kepada para tabiin. Para tabiin kemudian memberikan kepada perawi-perawi hadits. dengan kerjasama tersebut akhirnya lahirlah karya-karya jurnalistik islam yang terkenal, langgeng hingga akhir zaman. Banyak nama Jurnalistik kenamaan yang dapat disebut, seperti Imam Syafi’i, Imam Maliki, Imam Ahmad bin Hambal, Imam Hanafi, Abu Dawud, Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Imam Ghazali, Ibnu Rusd, Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Muhammad Rasyid Ridha.
B. Dakwah Lewat Jurnalistik” Sebuah Peluang Syi’ar dan Tugas Umat”.
Dakwah bil lisan (ceramah, tabligh, khutbah), dakwah bil hal (pemberdayaan masyarakat secara nyata, keteladanan perilaku) atau dakwah bil qalam (dakwah lewat pemberitaan atau tulisan) juga harus lebih digalakkan. Pemanfaatan media massa dalam hal berdakwah dapat dilakukan melalui penulisan opini yang umumnya terdapat di berbagai surat kabar harian, mingguan, tabloid atau majalah-majalah hingga bulletin internal masjid. Jurnalis yang memiliki peran sebagai muaddib (pendidik umat), musaddid (pelurus informasi tentang ajaran dan umat Islam), muwahis (pemersatu atau perekat ukhuwah Islamiah) dan sekaligus sebagai mujahid (pejuang, pembela, penegak agama dan umat). objek dan cakupan dakwah bil qalam lebih bersifat meluas dan lebih banyak karena pesan dakwah dan informasi Islam yang dituliskan dapat dibaca oleh ratusan, ribuan, bahkan ratusan ribu hingga jutaan orang pembaca dalam waktu yang hampir bersamaan. Media massa memang alat efektif untuk membentuk opini umum, bahkan mempengaruhi orang secara kuat dan massif.
Di sisi lain, sebagai jawaban mengapa berdakwah lewat jurnalistik (dakwah bil qalam) adalah melalui tulisan-tulisan di media massa, seseorang dapat menciptakan opini publik, mempengaruhi massa, hingga melakukan propaganda. Satu hal lagi yang tidak boleh terlupakan adalah sebagai umat pilihan, haruslah mewarisi keterampilan dan kemahiran para ulama, ahli fikir dan cendekiawan. tidak kalah pentingnya lagi, adalah tugas umat Islam menyadarkan umat Islam yang menyebarkan tulisan di berbagai media massa, agar memiliki kesadaran dan mampu serta mau mengemban missi suci sebagai jurnalis Islam
C. Dakwah Jurnalistik Perkokoh Islam
Satu masalah besar umat Islam di era globalisasi informasi dewasa ini, adalah kurangnya memiliki media massa yang memadai. padahal fungsinya sangat besar sekali yaitu sebagai wadah memperjuangkan dan menegakkan nilai-nilai Islam, atau membela kepentingan agama dan umat Islam.
Jurnalistik Islami sebuah Jawaban
melihat begitu dahsyat tipu daya barat terhadap budaya Islam, dalam hal ini lewat media teknologi dan informasi, maka sudah menjadi sebuah kewajiban untuk setiap umat Islam semakin jeli dan kritis dalam menyerap setiap informasi yang datang dari manapun. sebagai jawaban yang paling bagus adalah mengembangkan jurnalistik Islami yang benar-benar kokoh dan kuat. Menjadikan jurnalis Islami sebagai ideologi para penulis muslim demi membela kepentingan umat. Pengertian jurnalistik secara umum adalah proses meliput, mengolah, dan menyebarluaskan peristiwa atau berita atau opini kepada masyarakat luas, maka jurnalistik Islami dapat dimaknai sebagai satu proses peliputan, pengolahan, dan penyebarluasan berbagai peristiwa dengan muatan-muatan Islami, khususnya yang menyangkut agama dan umat Islam kepada khalayak, serta berbagai pandangan dengan perspektif ajaran Islam.
Jurnalis Islami lebih tepat dikatakan sebagai “crusade journalisme”, yaitu jurnalistik yang memperjuangkan nilai-nilai tertentu, yakni nilai-nilai Islami. Jurnalistik Islami mengemban missi amar ma’ruf nahi munkar. karena missi yang diembannya tersebut, maka ciri khas jurnalistik Islami haruslah menyebarluaskan informasi tentang perintah dan larangan Allah SWT. Pesannya haruslah berisi usaha untuk mempengaruhi komunikan agar berperilaku sesuai ajaran Islam.
A. Sebagai Pendidik (Muaddib)
Dalam kaitannya dengan fungsi edukasi yang Islami, harusalah lebih banyak menyodorkan pemberitaan yang lebih membawa muatan kepada ajaran Islam. Mendidik umat Islam agar melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya. Memikul tugas untuk mencegah umat Islam dan berperilaku yang menyimpang dari syari’at Islam, serta melindungi umat dari pengaruh media massa non-Islami yang anti Islam.
B. Sebagai Musaddid (Pelurus Informasi)
Dalam hal ini, setidaknya ada 3 hal yang harus diluruskan oleh jurnalisme Isla. Pertama, informasi tentang ajaran dan umat Islam. Kedua, informasi tentang karya-karya atau prestasi umat Islam. Ketiga, dituntut mampu menggali, melakukan penelitian tentang kondisi umat Islam di berbagai penjuru dunia. Dalam kaitannya sebagai pelurus informasi ini, jurnalistik Islam dituntut harus mampu mengikis fobia Islam (Islamopobhia) yang merupakan prioduk propaganda pers barat yang anti Islam.
C. Sebagai Mujaddid (Pembaharu)
Pembaharu yang dimaksudkan adalah penyebar paham pembaharuan akan pemahaman dan pengamalan ajaran Islam (reformasi Islam). Jurnalistik Islami haruslah menjadi alat bagi para pembaharu Islam yang menyerukan Islam. Memegang teguh Al-Quran dan As-Sunnah, memurnikan pamahaman tentang Islam dan pengamalannya. Ikut serta sebagai alat memberikan informasi dalam usaha membersihkan ibadah umat dari bid’ah, khurafat, tahayul dan isme-isme asing yang non-Islam , dan menerapkannya dalam segala aspek kehidupan umat.
D. Sebagai Muwahid (Pemersatu)
Dalam menjalankan fungsinya sebagai muwahid ini, dimaksudkan jurnalistik Islam dapat menjadi jembatan yang mempersatukan umat Islam. Jurnalistik Islam harus mampu menerapkan kode etik jurnalistik yang berupa impartiality (tidak memihak pada golongan tertentu) dan mampu menyajikan dua sisi pandang setiap informasi. Jurnalistik Islami harus mampu membuang jauh-jauh sikap sekterian.
E. Sebagai Mujahid (Pejuang)
Dalam fungsinya sebagai pejuang, maksudnya mencoba menampilkan tulisan-tulisan yang berusaha keras membentuk pendapat umum yang mendorong penegakkan nilai-nilai Islam, menyemarakkan syi’ar Islam, mempromosikan syi’ar Islam, mempromosikan citra Islam yang positif dan rahmatan lil ‘alaamin, serta menanamkan ruuhul jihad di kalangan umat.
D. Dakwah Lewat Jurnalistik Itu Ibadah
Satu sisi media mengharapkan kiriman tulisan berkualitas dan ingin memberikan honor yang besar, namun kemampuan media masih sangat lemah. Hal itu disebabkan karena tiras masih kecil akibat lemahnya minat baca.
Tetapi perlu diingat bagi orang yang mengaku mualim, uang bukanlah segalanya, Menulis adalah ibadah yang pahalanya akan di dapat di sisi Allah SWT kelak yang jauh lebih besar daripada yang di dapat di dunia. Penulis muslim haruslah sadar bahwa dakwah bil kitaabah adalah amanah perjuangan yang harus senantiasa dijunjung tinggi.
BAB II
BAGAIMANA DAKWAH MELALUI JURNALISTIK
A. Tentukan Langkah Agar Tulisan Bernilai Dakwah
4 langkah yang dimaksud adalah:
- Prinsip Ikhlas yang berwujud:lilllahi ta’ala, menjauhi Al- Wahn, berpegang teguh kepada Al-Quran dan As-Sunnah;
- Kesiapan teknis (perangkat lunak dan keras);
- Tidak terburu-buru dalam bekerja;
- Memegang teguh prinsip-prinsip dakwah, maka seorang penulis selayaknya memegang beberapa prinsip-prinsip dakwah sebagaimana berikut:
- Memiliki agenda.
Memiliki agenda yang dimaksud adalah memiliki gambaran atau pijakan bagi penulis untuk menyusun tulisannya sehingga tidamng melenceng dari tujuan penulisannya. Adabeberapa hal penting yang harus dijadikan agenda sebagai pijakan dalam proses menulis agar tidak melenceng dari missi dan vissi dakwah.
Pertama, sasaran ideal yang hendak dicapai langkah awal dalam dakwah, yakni kondisi umat Islam yang sebagaimana diharapkan. Oleh Al-Ghazali, ada 3 hal strategis yang harus dilakukan secara sistematis selama proses dakwah, yaitu: menyadarkan pikiran, menumbuhkan keyakinan, dan membangun sistem.
Artinya, dakwah haruslah dapat menumbuhkan dan menanamkan kesadaran dan keyakinan umat akan pentingnya memegang teguh ajaran Islam sehingga dapat membangun sistem kehidupan yang Islami.
Kedua, mempunyai rumusan yang jelas tentang pokok masalah umat Islam.
Ketiga, menyusun isi dakwah secara tepat sesuai kebutuhan umat.
K eempat, penyelarasan antara materi dakwah dengan kemampuan umat.
Kelima, sebagai tugas yanmg terpenting adalah pengevaluasian terhadap proses dakwah yang telah berlangsung. Dengan pengevaluasian ini, akan dapat ditentukan bagaimana grafik perkembangan dakwah, penentuan perubahan dan penyempurnaan dakwah yang dilakukan. Diharapkan, perubahan dan perkembangan akan lebih mudah dilaksanakan dalam, dakwah Islamiah selanjutnya.